Cobalah Menjadi Gila






Jiwanya terganggu. Begitu kata mereka. Karena perempuan itu sering menyanyi keras-keras tanpa malu, lalu marah-marah dan menangis begitu saja sambil berjalan mondar-mandir di rute yang sama setiap hari. Tidak perduli dilihat, diejek, disepelekan, tidak perduli ada yang perduli atau tidak.
Pertanyaan yang sama terlintas dikepala saya setiap hari. Apakah saat inilah ia merasa lepas? Semua tekanan yang pernah ia tumpuk sampai penat akhirnya bisa ia ekspresikan tanpa merasa malu lagi?
Berteriak di jalan, menertawakan kita yang masih saja betah memakai topeng ekspresi palsu. Menangis dan tertawa yang harus cocok pada tempatnya.
Mungkin sekali-kali cobalah menjadi "gila"

#PeopleAroundUs #Day1

A Letter for My Future Daughter


Selamat pagi Kalina, Selamat Ulang Tahun ke-15



Jika aku bisa mengulang usia 15 (seperti umurmu saat ini) mungkin saat itu aku akan sudah tau apa yang aku ingin persiapkan dan kubawa untuk masa-masa yang  menungguku di depan. Saat kelak langit tidak lagi  sebiru itu, saat senja kelak tidak lagi seindah yang para sastrawan kisahkan.

Kalina,
Aku akan memiliki kamera (aku mengahadiahkannya untukmu hari ini) banyak hal yang harus kuabadikan sejak lama. Dulu kufikir tidak akan ada yang berubah dari siluet gadis-gadis dan laki-laki yang berjalan ceria di bawah hujan dengan payung bunga-bunganya. Namun Kalina kelak ternyata mereka tidak akan lagi ceria karena hal-hal sederhana.
Langit senja, uap dingin diudara, tawa polos, kecipak air, dan celoteh mereka berganti dengan hingar bingar gaya hidup yang tidak akan pernah sampai untuk dikejar. Meskipun kamu Kalina, adalah pelari tercepat di dunia.

Kalina, aku akan mengabadikan semua kepolosan dan keluguan suasana selagi semua masih terasa sederhana dengan kameraku. Langit, pohon, bunga, lebah, rumput basah, matahari senja, ombak, gerimis, embun, atap rumah jerami, kaki-kaki telanjang yang berjalan di tanah basah, dan semua hal sepele yang tidak disadari akan sangat kamu rindukan dimasa depan.

Setelah itu Kalina,
Aku akan menyisihkan setiap keping uang yang mungkin bisa aku sisihkan, setiap kepingnya akan menjadi uang lembaran yang lebih berharga yang bisa ku pakai untuk terbang mengelilingi dunia. Ada banyak tempat yang bisa kau pijak selain tanah dimana kamu dilahirkan dan dibesarkan. Piijaklah semua tanah basah dan pasir lembut di berbagai daratan. Berendamlah, berselancarlah, dan selamilah semua sungai, pantai dan lautan di berbagai samudra. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang menunggu untuk kamu genggam dan kamu tuliskan menjadi berlembar-lembar  jurnal petualangan, Kalina. Bukan tulisan penyesalan karna kamu merasa sudah terlalu terlambat untuk menujunya. Seperti tulisan yang aku tunjukkan padamu saat ini.

Lalu aku akan belajar tentang seni, Kalina
Alunan nada-nada yang bisa kau dentingkan, kau petik, kau tabuh. Garis-garis halus, titik-titik kordinat, warna-warni yang bisa kau tuang di atas kertas kanvas. Buah dari rasa terdalam yang mungkin bersembunyi, sulit untuk kau ungkapkan akan menjelma menjadi melodi indah yang bisa menyentuh dan menghibur para pemilik telinga, menjadi sebuah lukisan yang bisa menghipnotis para pemilik mata. Kamu akan bangga Kalina, bisa menyajikan rasa dalam bentuk yang lebih menyentuh, bukan keluh.

Aku akan lebih terbuka soal cinta,
Cinta bukan sebuah dosa. Tidak pernah ada batasan usia untuk merasakannya.  Aku akan  jatuh cinta saat aku masih tidur bersama boneka beruang hadiah ulang tahun ke-5. Aku akan menerima debar yang kurasa karena mata indah sahabat kecilku, atau senyum nakal musuh sekolahku, atau perhatian dari guru olahragaku. Tidak ada salahnya menerima hal-hal kecil itu sebagai rasa cinta. Aku tidak akan menyalahkanmu karna merasakannya di usia yang terlalu muda. Satu hal yang harus kau tau tentang cinta adalah; sakit yang akan kau rasakan setelah kau kehilangannya, atau ternyata bahkan karena kau tidak pernah mendapatkannya. Jangan layu, Kalina. Cinta memang rumit, dan akan bukan hanya kamu yang dikecewakannya. Tapi kelak pasti ada orang yang tepat. Kamu hanya perlu menunggu dengan anggun, memantaskan diri untuk dicintai sampai Tuhan memilihkannya satu untukmu.

Tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai,
Kurasa hal itu yang tidak akan pernah ingin kurubah jika aku berumur 15 lagi. Sempurna adalah kerelatifan. Pada dasarnya semua diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan Kalina. Walaupun ada yang tidak bisa melihat dan mendengar sejak lahir kedunia. Tapi Tuhan membuat ia hidup dengan perasa yang lebih peka. Tidak perlu menjadi yang paling cantik untuk dipuja, Kalina. Mereka yang berhati suci akan melihat dan menghormati karna pekerti, pengetahuan dan sujud kita pada pencipta. Tidak apa-apa jika kamu (merasa) tidak sempurna. Kasih yang sebenarnya akan tetap mencintaimu. Dari situ kamu akan tau cinta murni yang akan selalu menyertai perjalananmu.

Pada akhirnya,
Aku akan kembali ke masa dimana aku menulis surat ini, saat aku berumur 25 tahun.  Aku bahkan belum memilikimu. Tapi aku ingin menceritakan keinginanku lebih cepat Kalina, sebelum aku lupa, sebelum aku akhirnya memaklumi saja semua kesia-sia an yang terjadi. Hari ini aku masih meweujudkan mimpi-mimpi ku Kalina. Tidak pernah ada kata terlambat untuk melakukan hal baik apapun. Tapi aku ingin kamu memahami semuanya saat ini. Di ulang tahunmu yang ke-15. Sehingga saat kamu berumur 25 kamu tidak perlu memiliki keinginan untuk kembali berumur 15.

Selamat Ulang Tahun, Kalina

Love you as always 



Grass And Sky

Dar!
Udah lama gak ngeblog. Padahal di resolusi taun ini gue udah janji bakalan sering ngeblog biar pinter bikin tulisan yang enak dibaca. Tapi apa daya, gak ada bahan cerita. Dan mumpung lagi ada yang pengen gue ceritain jadi gue ngeblog deh. *basa basi*
Oke, gau mau cerita kalau awal tahun 2013 kemaren gue baru aja beli kamera prosumer Fujifilm Finepix s2980. Tadinya gue kepengen banget beli kamera polaroid tapi menimbang bakalan banyak biaya yang bakal keluar nantinya untuk beli kertas foto maka gue rubah haluan beli kamera semi SLR. Bisa dibilang gitu karna bentuk prosumer ini kaya SLR tapi ukurannya lebih kecil dan gak bisa pake tambahan lensa. Gue belom sempet moto tuh kamera karna si kamera ternyata gak bisa moto dirinya sendiri. Hufh. Payah. Jadi gue ngambil aja di internet buat ngasih tau penampakannya.
Polaroid yang tadinya pengen gue beli

Kamera Prosumer Fujifilm Finepix s2980 yang akhirnya gue beli

Ini waktu kita foto berdua. Oke, ini norak -_-
Setelah beli kamera gue pun mulai iseng-iseng belajar moto. Gue emang orang yang labil. Biasanya kalo abis nonton film tentang musik-musik mendadak gue pengen jadi musisi. Kalo abis nonton film dokter-dokter gue kepengen jadi dokter. Abis nonton film tentang fotografer gue langsung kepengen jadi fotografer dan begitupula pas gue abis nonton film larva gue tiba-tiba kepengen jadi larva. Hih!

Anyway ini beberapa hasil foto iseng-iseng gue. Belom bisa disebut belajar karna yang gue lakuin cuma nyalain kamera dan ngutak atik menu yang ada di sana buat ngedapetin foto yang menurut gue bagus. Dan setelah gue nyoba moto ternyata kualitas kamera prosumer bisa dibilang lumayan walaupun gak sebagus kalo kita pake SLR dan kamera prosumer ini harganya gak nyampe 2 jutaan. Ini nih hasil foto nya.

ini awan -_-

ini rumput -_-

ini daun -_-


Nah itu deh foto-foto yang gue jepret. Semua objek diambil di deket-deket rumah aja karna gue emang anak rumahan. Masih amatir banget kan fotonya tapi ya namanya juga usaha. Hahahahaha. Nanti kalo gue udah bisa moto yang lebih kece dan artistic pasti gue pamerin lagi. Ahsik.

Ya udahlah ya sekian dulu postingan tentang foto dan kelabilan gue. Caooooo!

Finally, (belum) bisa main gitar juga....

  Akhirnya gue bisa juga main gitar. Dikit-dikit lah, mayan. Dan Ini adalah video cover pertama yang gue buat. Em maksudnya yang pertama berhasil dengan lumayan bisa disebut main gitar. Harusnya lagu ini gue mainin pake ukulele. Tapi karena ukulele adek gue stem-an nya dirubah-rubah terus akhirnya gue main pake gitar biasa. Gue akalin aja main di empat senar bawah dengan tetep pake chord ukulele. Hasilnya alhamdulillah lumayan manusiawi walaupun masih telihat cupu. 

 Biasa, pertama ngapa-ngapain emang kita akan selalu terlihat cupu. Masih inget gak pertama kali masuk sekolah? pertama kali masuk kerja, pertama kali bisa naik motor? Kalo loe punya foto-fotonya loe pasti bakal komen "ih kok dulu gue cupu banget ya?" Jadi ya gue maklum kalo cover ini terlihat cupu. hahahahah *kaya ada yang perduli aje*

 And this is my first video cover. Moving On by Paramore. Hope you enjoy. Pretttt.

^^ 

Valentine For My Enemy


By.Sabrina
“Ngasih cokelat Valentine buat orang yang paling aku benci? Maksud kak Indi aku harus ngasih cokelat ke Lily. Si nenek rempong, sok cantik, nyebelin, egois, dan tukang gossip itu ? Ih, kak Indi gak masuk akal banget sih .” Rinda mencak-mencak setelah mendengar masukan kakaknya tentang apa yang harus ia lakukan untuk bisa mendapatkan cerita valentine paling berkesan yang akan ia tulis sebagai tugas bahasa Inggris dari tempat les.
“Loh, kan kamu minta ide sama kakak. Kalo menurut kakak sih itu berkesan loh Rin. Bayangin, cerita kamu bakalan beda dari cerita puya temen-temen kamu yang paling-paling Cuma bikin karangan tentang hari valentine yang mereka lewatin sama pacar, keluarga atau sahabat. Ya kan?”
“Tapi kan valentine emang hari kasih sayang kak indi cantiiik. Dan emang udah seharusnya kita lewatin sama orang-orang yang kita sayang.”
“Gak harus gitu juga Rinda jeleek. Valentine itu hari kasih sayang. Kamu bisa menciptakan kasih sayang dan membunuh satu-satu kebencian yang ada di sekeliling kamu. Dimulai dari si Lily. Kakak udah bosen dengerin kamu ngeluh soal musuh bebuyutan kamu itu tiap hari. Gak ada salahnya kan kamu nyoba buat berdamai. Ini moment yang pas loh Rin. Dan kalo itu berhasil kamu juga bakalan bisa dapet karangan yang bagus buat tugas kamu. Gimana?”
Kak Indi mengangkat sebelah alisnya dan  memandang Rinda penuh arti. Rinda tampak berfikir keras. Memikirkan betapa meggelikannya memberikan si Lily sebuah kado valentine. Tapi akhirnya Rinda mengangguk. Kak Indi bener sih, Rinda emang udah capek musuhan sama Lily dan dia pikir tidak ada salahnya ide ini dicoba.
**
Saat bel istirahat sekolah berbunyi, Rinda tidak langsung bergegas menuju kantin bersama dua sahabatnya Tyas dan Lulu. Rinda masih belum memberikan kado valentine yang ia siapkan untuk Lily. Rinda sendiri sudah menerima beberapa kado dan cokelat. Beberapa dari orang yang ia kenal. Beberapa dari pengagum rahasianya yang selalu memanfaatkan momen valentine untuk memberikan sebatang cokelat dan puisi untuknya. Rinda berdiri di depan kelas Lily sambil menimbang-nimbang kado kecil yang ia hias dengan pita berwarna biru. Warna kesukaan Lily. Membenci Lily membuat Rinda mengetahui banyak hal tentang anak itu. Rinda menghela nafasnya lalu berjalan masuk. Kelas Lily sepi, hanya ada Lukas yang sedang kelihatan sibuk mengerjakan PR di meja belakang. Rinda menyapa Lukas seadanya sambil memasukkan kado kecil itu ke dalam laci meja Lily. Setelah itu ia bergegas keluar kelas dan menyusul kedua sahabatnya di kantin.
**
Besoknya saat jam pulang sekolah, Rinda berjalan lesu keluar kelas. Seharian ini ia menunggu respon Lily atas kado yang kemarin  ia berikan kepada cewek nyebelin itu. Tapi Rinda akhirnya cuma bisa menelan kekecewaan dan menganggap ide Kak Indi gagal. Gak semua musuh bisa ditaklukin sama kebaikan. Buktinya Lily cool aja. Tapi di depan gerbang sekolah tiba-tiba Rinda dikejutkan oleh sebuah tepukan halus di pundaknya. Waktu Rinda menoleh, ia mendapati Lily berdiri disitu dan menyerahkan sebuah kotak berpita kepadanya sambil tersenyum. Setelah itu Lily pergi begitu saja. Rinda mematung sesaat sebelum membuka kado pemberian Lily. Sebuah gelang tangan cantik tergeletak di dalamnya bersama secarik kertas dengan tulisan tangan Lily. Rinda membaca tulisan itu dalam hati.
Hai Rinda. Makasih ya kadonya. Kamu tau gak? Itu satu-satunya kado valentine yang pernah aku dapetin selama ini. Aku gak nyangka itu datang dari kamu. Orang yang selama ini aku fikir paling benci aku. Aku tau aku nyebelin, mungkin karena itu aku gak punya banyak temen. Aku harap, kamu mau jadi sahabat pertama aku. Happy valentine  
Rinda menghela nafas lega. Entah kenapa hatinya terasa lapang setelah membaca surat dari Lily. Satu kebencian hilang menjadi sebuah rasa kasih sayang. Rinda pasti bisa mendapatkan nilai A untuk tugas menulisnya. Ah, tapi siapa yang perduli lagi tentang itu. Ia bahkan sudah merasa mendapat nilai lebih dari itu untuk pelajaran di hidupnya. Rinda jadi tidak sabar untuk ingin menceritakan hal ini kepada Kak Indi. **END

nb. Cerpen ini pernah gue kirim ke salah satu majalah remaja. Tapi ternyata belum dapet kesempatan buat di terbitin. But Its Oke. Namanya juga usaha. Semangka!!!